Selasa, 12 Juni 2018

Aher Membuktikan, Pemimpin Muslim Bisa Diandalkan


Muslim Indonesia sempat dihadapkan pada sebuah pilihan yang aneh menjelang Pilkada DKI silam. Mereka diminta memilih antara Pemimpin non-muslim tetapi tidak korupsi dengan pemimpin muslim tetapi korupsi. Banyak Ulama yang keberatan dengan dua pilihan ini, mereka menyatakan bahwa pilihan tersebut telah mendiskreditkan posisi dan figur pemimpin muslim. Seolah-olah tidak lagi bisa ditemukan sosok pemimpin muslim yang kompeten, dalam hal ini yang tidak terjerat korupsi. Padahal hari ini, sudah mulai kita temukan banyak figur pemimpin muslim yang handal, salah satunya adalah Kang Aher, yang jabatannya sebagai Gubernur Jawa Barat akan berakhir pada 13 Juni ini.

Ahmad Heryawan, atau yang akrab disapa Kang Aher ini, telah menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat selama dua periode (2008-2018). Sepanjang kepemimpinannya, Jawa Barat telah mendapatkan banyak prestasi dan penghargaan. Penghargaan terakhirnya adalah Parasarnya Purnakarya Nugraha yang didapatkan dari Presiden, atas prestasi capaian tertinggi secara nasional.

Cara Pandang Para Pendidik

Tulisan ini dibuat saat sedang merenungi peringatan Hari Pendidikan Nasional (2 Mei)


Sebagai pengajar bimbel yang target pasarnya menengah ke bawah, banyak saya dapati kasus anak ajar yang spesial. Spesial dalam arti, pemahamannya berada di bawah rata-rata anak seusianya.

Sebut saja namanya Mawar, dia adalah siswi SD Kelas 6 yang sebentar lagi akan mengikuti UN dan naik ke tingkat SMP. Mawar adalah satu dari beberapa kasus spesial yang saya maksud di atas.

Saat mulai belajar di bimbel, saya mengawalinya dengan memberikan soal pembagian, namun Mawar hanya terdiam dan tidak bisa menjawab. Akhirnya pembelajaran pun dimulai dari belajar perkalian, dasar sebelum memahami pembagian. Setelah dicek ternyata ia baru selesai menghafal perkalian 1 dan 2. Sebagai seorang pengajar bimbel yang juga dituntut untuk memahami kurikulum sekolah dasar, saya paham ternyata kemampuan Mawar barulah sampai di taraf yang sama dengan siswa kelas 2 SD.
Kaget? Iya. Bingung? Sudah tentu.

Yang kemudian berkelebat dipikiran saya adalah, apa yang terjadi dengan pembelajarannya di sekolah ya? Mengapa Mawar dengan pemahaman seperti ini bertahun-tahun diluluskan naik ke kelas selanjutnya? Saya merasa ada yang salah dengan guru sekolahnya. Padahal, dengan menaikkan kelas anak tersebut, akan mempersulit guru lain (yang mengajar di kelas berikutnya) dan sang murid itu sendiri.

Guru yang ideal menurut saya persis seperti tokoh yang diperankan oleh Amir Khan di film Taare Zamen Par. Seorang guru yang meyakini potensi lebih pada tokoh Ehsan, anak didiknya, dan berusaha menjadi pendidik yang adil dan peduli. Adil dalam menilai kemampuan muridnya, dan peduli dengan kesulitan belajar yang dihadapi anak didiknya. Bahkan guru yang ideal akan berusaha mengkomunikasikan solusi belajar terbaik untuk sang anak kepada pihak keluarganya. Dan meyakinkan keluarga tersebut bahwa sang anak punya kelebihan dan perlu terus didukung selama masa pembelajaran.

Kembali ke Mawar, pernah suatu ketika  saya memberikannya tugas terkait operasi hitung pembagian. Tugasnya memang selesai, tapi saat diminta mengerjakan ulang di depan saya dia terdiam, mengaku tidak bisa. Dan setelah ditanya lebih lanjut, dia mengaku bahwa sang ibu yang membantunya mengerjakan tugas itu. Ia hanya sekedar menulis angka seperti yang diajarkan sang ibu tanpa sepenuhnya mengerti apa yang dia tuliskan.

Memang pendidikan formal sekolah banyak dibebankan kepada Guru, namun perlu juga kerja sama dan bantuan dari pihak orang tua di rumah. Sepulang anak belajar di sekolah, orang tua di rumah pun perlu membantu dan memperhatikan perkembangan anak saat mengerjakan pekerjaan rumah. Saya masih ingat keluhan sang ibu saat pertama kali mendaftarkan anaknya bimbel, menceritakan bahwa Mawar sangat amat berbeda dari kakak-kakaknya yang lain. Dimana dikisahkan betapa seringnya beliau mndapati anaknya ini menjadi peringkat terakhir di sekolah.

Saat ada keterlambatan belajar pada anak, orang tua tidak boleh acuh. Perlu untuk segera mengkonfirmasi kekhawatiran yang orangtua dapati kepada pihak sekolah khususnya guru kelas sang anak. Dan jangan ikut memarahi sang anak karena ketidakpahamannya.

Perbanyak motivasi dan selami lebih dalam kegiatan favorit sang anak di luar pelajaran yang dia anggap sulit, semisal berhitung. Ini fungsinya menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat untuk terus belajar dengan menemukan hal yang dia kuasai. Anak yang kurang motivasi akan terjebak pada label 'bodoh' yang tak sengaja ter-frame dari segala perlakuan lingkungan sekolah dan keluarganya atas dirinya. Terlebih jika ternyata ada sosok yang sering dijadikan perbandingan dengan sang anak, karena diakui lebih cerdas oleh keluaganya.

Maka tanggung jawab siapakah pekerjaan mendidik ini? Sampai batas manakah kita telah selesai mendidik?

Guru dan orangtua sama-sama berperan penting dalam mendidik anak. Dan tak ada kata berhenti, teruslah belajar menjadi pendidik yang ideal, baik sebagai guru formal maupun non formal (Ayah-Bunda).

Selamat memperingati hari pendidikan! Semoga kita semakin merenung dan bersemangat memperbaiki cara pandang sebagai pendidik agar lebih baik ke depannya~

Selasa, 08 Mei 2018

Reconnect with Qur'an (Part 2)


Selanjutnya..

Kita diingingatkan tentang bagaimana agar bisa terhubung dengan Al Qur'an, yakni memahami kembali 3 peran penting berikut ini :

Pertama
Al Qur'an hadir sebagai 'Advice' atau pemberi nasehat.

Ketika sedang meminta nasehat pada orang lain, kita pernah mendapati orang-orang yang berniat memberikan nasehat untuk kita namun dengan cara penyampaian yang menyakitkan dan merendahkan. Bahkan malah membuat kita semakin ingin menjauh dari dirinya dan nasehat-nasehatnya. Benarkan?

Namun sangat berbeda, dan terasa menyenangkan bila kita mendapati sahabat yang menasehati dengan cara yang menenangkan, berusaha memahami betul persoalan kita, bahkan ia dengan tulus merangkul kita.

Sama halnya dengan Al-Qur'an.
Ia memberi nasehat tanpa rasa marah, ia betul-betul memahami perasaan kita, ia ingin yang terbaik untuk kita, ia berusaha merangkul diri dan hati kita yang sedang rapuh.

Kedua,
Al Qur'an hadir sebagai Penyembuh bersifat 'Healing'

Ia menasehati, hingga kita merasa relax  dan healing. Ia menasehati, hingga kita merasa lebih baik. Setiap orang dari kita memiliki perasaan yang berbeda-beda, semisal senang, marah hingga merasa dendam, sedih, trauma, kecewa terhadap orang lain, bahkan mungkin ada yang anaknya telah meninggalkan rumah dan ia bersedih atas hal itu.

Dan Qur'an berusaha merangkul semua rasa yang ada pada dirimu. Ia hadir untuk menyembuhkan semua luka mu. Ia, Allah hadirkan untuk dirimu.

Ketiga,
Al Qur'an hadir sebagai 'Guide' atau Petunjuk bagi dirimu

Namun seringkali kebanyakan dari kita sulit mempercayainya, karena mungkin belum pernah mengalaminya. Maka, sekarang adalah saatnya dirimu meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Al Qur'an adalah petunjuk dari Allah. 

Butuh keyakinan yang kuat! 
Bahwa, Dia memberikan semua solusi permasalahanmu melalui ayat Al Qur'an. Saat sedangbada masalah, bukalah Qur'an mu. Yakinlah dengan sepenuh hatimu, bahwa Qur'an akan menghubungkanmu langsung dengan petunjuk Allah.

Setelah merasakan feeling kepada Al Qur'an, apa yang kemudian harus dirubah pada diri kita?

Yang harus dirubah pada diri kita adalah Cara Berdoa.

Karena Quran dimulai dengan doa (Al Fatihah, Ihdinash shirotol mustaqiim..) dan diakhiripun juga dengan doa (An Naas, Qul a'udzubirobbinnaas malikin naas, ilahin naas...). Maka semua ayat Quran sesungguhnya bisa menjadi inspirasi doa bagi diri kita.

Pahamilah bahwa setiap membaca ayat Al Quran, kita harusnya senantiasa menghubungkannya dengan kehidupan pribadi kita dan menjadikannya doa. Karena doa berasal dari hati, maka terhubungnya kita dengan Qur'an ditandai dengan cara diri dalam memahami doa tersebut, cara kita berkomunikasi dengan Allah.

Disampaikan bahwa kita tidak diminta untuk menghafalkan/menyelesaikan seluruh isi Al Qur'an, bahkan para sahabat pun sebagian besar bukanlah seorang hafidz, melainkan kita diperintahkan untuk selalu terhubung dengannya, merasakan keterikatan dengan ayat-ayatnya, setiap hari.

Terakhir disampaikan,
Barangsiapa berpegang pada Tali Allah sesungguhnya ia sedang berpegangan pada Allah. Ibarat 2 sisi tali yang digenggam erat, maka yang menarik lebih kuatlah yang lebih berkuasa. Jika tali yang kita genggam erat tersebut adalah tali Allah, maka kehidupan diri ini akan senantiasa ditarik ke sisi yang lebih dekat dengan Allah. Dimana perjalanannya bersifat terus menerus naik ke derajat yang lebih baik.

Wallahua'lam.

Reconnect With Qur'an (Part 1)


Pernah ga sih merasa ga bersemangat saat membaca Qur'an? Atau pernah ga sih merasa capek saat baca Qur'an? Atau..atau.. merasa membaca Qur'an setiap harinya adalah sebuah beban?

Kalo saya *PERNAH BANGET* merasa seperti itu!

Terlebih kalau lagi hectic sama agenda harian yang padat, atau selesai suci dari haid (yang hampir seminggu tidak bersinggungan langsung dengan Al-Qur'an).

Jujur secara pribadi, saya lagi mencari-cari nasehat yang menggugah agar bisa lebih bersemangat membaca Qur'an.

Sampai suatu ketika saya menemukan ceramah singkat tafsir ayat oleh ust. Nouman Ali Khan di youtube terkait Cara Mengetes Apakah Diri Kita Termasuk Pribadi Rendah Hati. Saya merasa tergugah dan tersadar dengan analogi yang beliau sisipkan, bahkan termasuk juga penitik beratan beliau pada kata-kata yang dipilih Allah dalam ayat tersebut, semisal pemilihan kata jika dan ketika yang berbeda maksud.

Bisa kalian cek videonya di link ini.

Maka, saat ada info ust. NAK akan datang ke Indonesia, saya bersegera mendaftarkan diri ke panitia acara tersebut. Alhamdulillah dengan izin Allah saya pun bisa menghadiri langsung kajian beliau 6 Mei lalu di Istiqlal (meski dengan keterbatasan pemahaman Bahasa Inggris saya dalam memahami lecture dari beliau).

Sedikit yang saya catat kala itu..

Berawal dari Euforia tayangnya film Infinity War dari para penikmat Marvel. Beliau menceritakan mereka (penonton tsb) sangat antusias, merasa penasaran, ikut membayangkan dan berekspektasi terhadap keseruan yang akan diterima saat menonton film tersebut. (tambahan saya- Bahkan mungkin termasuk merasa gregetan saat ada pihak yang spoiler dengan isi ceritanya ya, karena sebegitu inginnya merasakan juga sensasi menonton langsung film tersebut.)

Begitulah kondisi orang yang sudah terikat- terhubung dengan sesuatu, ia akan punya 'feeling yang kuat'. Ia akan merasa antusias terhadap apa-apa yang berkaitan dengan hal tersebut. Akan selalu merasa penasaran dan selalu bersemangat tanpa terbesit bosan membicarakan hal yang berkaitan dengannya.

Harusnya begitulah kita bisa memposisikan diri agar bisa merasa selalu terhubung/terikat (connect) dengan Al-Qur'an. Kita harus mempunyai 'feeling yang kuat' terhadapnya.

Lagi, diceritakan tentang seorang ibu hamil dan bayi dalam kandungannya. Kita diingatkan bahwa sang ibu dengan segenap cintanya, segenap hidupnya menjaga sang buah hati terkasih. Memberinya makan, memastikan sang bayi selalu sehat tanpa kekurangan suatu apapun. Tapi, apakah sang bayi mengetahuinya? Tidak! Sang ibu melakukan semua pengorbanan itu tanpa sepengetahuan si bayi.

Begitulah analogi perlakuan Allah kepada para hambaNya. Allah memberikan segenap penjagaan, perhatian yang begitu mendetail kepada setiap makhlukNya tanpa sepengetahuan mereka. Begitupun saat Dia menurunkan Al Qur'an. Ia turunkan dengan penuh cinta dan kasih sayang, Ar Rahman.

Penekanan yang diberikan adalah, kita perlu menanamkan satu hal ini sebelum membuka dan membaca Qur'an,

"Bahwa Allah menjadikan Al- Qur'an ini ada adalah untuk kebaikan dirimu, untuk menjaga mu. Ia hadir sebagai tanda sayang untuk mu. Al Qur'an ini bukan untuk para Nabi atau para sahabat, tetapi untuk dirimu."


To be continued..


Kamis, 03 Mei 2018

Wangi itu Berubah Bau :(

Baru banget denger pepatah,
"Jauh bau bunga, Dekat bau bangkai".

Pertama ditegur pake kata-kata ini langsung ngerasa DEG!! Langsung mikir apa ya yang membuat dekat jadi bau bangkai? Kok bisa? Tapi begitu renungan ini disangkutpautkan dengan kejadian beberapa hari sebelum 'teguran datang', bener juga sih, ada banget korelasinya.

Saat berjauhan celah jelek kita akan sulit terlihat oleh orang lain. Namun saat berdekatan disertai intensitas pertemuan yang banyak, akan terbukalah segala pintu tampaknya kejelekan kita.

Jadi teringat nasihat sahabat Nabi, Umar bin Khotthob, Jangan mengaku ia mengenal seseorang sebelum ia bermalam dengannya. Iya banget kan? Kalo cuma kenal sebatas say hey! Ga akan kenal sama dalamnya, dengan kita yang sudah pernah bermalam bareng mereka. Secara, kita tau jeleknya kebiasaan sebelum tidur, saat tidur dan bangun tidurnya seseorang tersebut. 😂

Nah, rindu itulah yang dulu membuat wangi bunga itu muncul di antara interaksi kami berdua. Begitu tak ada lagi jarak, pertemuan terjadi begitu seringnya, tak ada jeda nya, bau bunga itu perlahan jelas berganti.. mungkin benar, ia berubah menjadi bau bangkai. Karena setelah bersama, kami semakin sering bertengkar. Nasehat yang dulu mudah sampai ke hatinya, kini makin sulit. Emosi kami berdua jadi mudah tersulut.

Entahlah.. aku juga sedang banyak merenung.. apa yang perlu diperbaiki dari cara kami berinteraksi?

Jika pribadi yang baik itu telah melekat pada diri ini, kan seharusnya pepatah itu tak berlaku ya? Karena, meskipun dalam kondisi berdekatan maupun berjauhan, yang nampak dan tercium dari perilaku kita tetaplah sama-sama wangi bunga.

Tapi manusia satu ini masih terus belajar, bukan makhluk sempurna. Ya Rabb mudahkan dan lembutkan hati juga lisan ini, agar dalam berbagai situasi tetap dalam lingkaran sifat kebaikan. Aamiin.. 😣

Kamis, 26 April 2018

Ngambeknya Anak-anak itu Sesuatu Banget..


Berlatih mendidik anak bisa juga ya dengan jadi seorang pengajar bimbel. Menghadapi marahnya sang anak karena ga mau dibilang salah, atau karena mereka yang merasa ga bisa saat dikasih soal latihan untuk dikerjakan. Khasnya anak-anak, jika kecewa mereka lebih sering menangis/ merengek , meskipun usianya bukan lagi TK ataupun SD Kelas 1.

Ngambek itu kayaknya hak segala pribadi, org dewasa pun juga bisa ngambek. Tapi, anehnya anak-anak itu marahnya cepat selesai, meski kita yang lebih dewasa masih berlarut bapernya 😂. Emang aneh ya emosi anak-anak. Kadang mereka dengan jelas merekam di dalam memorinya kemarahan orang dewasa kepada mereka, namun dengan mudahnya mereka lupa akan tingkah marah/ ngambeknya mereka.

Namanya juga belum matang akal nya, jadi masih tanpa beban melakukan segala hal. Harusnya sih ya, kita yang dewasa lebih banyak mengalah dan memahami mereka, bukan malah ikutan baper dan capek sendiri -karena pengen marah ke mereka tapi ga boleh 😧. (Ini lagi ngaca dan nasehatin diri banget)

Sempat membaca di suatu buku, anak-anak yang suka ngambek itu perlu dibantu untuk menjelaskan emosi apa yang sedang dirasakan. Tanyakan apakah mereka sedang merasa kesal? Sedih? Atau sedang merasa bingung dan takut? Biar mereka paham, cara mengekspresikan emosi yang sedang mereka rasakan. Jika cara mereka mengungkapkan perasaan tersebut bukanlah cara yang tepat- semisal melempar barang, berteriak atau diam yang berlarut-larut, sampaikan rasa kurang suka kita sebagai orang dewasa terhadap sikap tersebut dan berharap di kesempatan selanjutnya ia akan bersikap lebih baik. Tentunya diakhiri dengan senyum tulus menginginkan kebaikan bagi mereka atas nasehat itu.

Meskipun diri ini pribadi belum bisa mengakhiri dialog 'kejujuran' itu dengan senyum dan mimik wajah apresiasi yang tepat. 😟 sesuatu banget.

Bersikap terhadap anak orang lain saja sulit, apalagi bersikap terhadap anak sendiri ya nantinya. Nggak boleh terlalu memanjakan, namun tetap harus bisa jadi tempat ternyaman mereka berbagi segala cerita.

Minggu, 08 April 2018

Mencari Barokah bukan Pamer Izzah Saat Kajian


Kajian keislaman jika dihadiri sama ibu-ibu, bapak-bapak, nenek-nenek dan kakek-kakek itu hal yang biasa ya. Yah secara logika usia-usia beliaulah seorang manusia sudah mencapai kematangan berpikir karena pengalaman hidup. Dan pas kisaran umur tersebut lumrah anggapan terkait semakin menipisnya jatah usia, semakin dekat dengan ajal.

Nah yang luar biasa itu, lihat kajian keislaman yang dihadirinya oleh pemuda. MasyaAllah. Udah 'lurus' di usia semuda itu kan waw banget. Di saat yang muda lainnya sedang condong bersenang-senang menikmati kebebasan setelah beranjak dari fase sebagai anak-anak menuju remaja-dewasa, pemuda-pemuda tersebut memilih kegiatan yang lebih mendekatkan dirinya dengan Tuhan Sang Penciptanya.

Kejadian itu baru saja saya alami pagi tadi (8/4). Hadir di kajian Islami khusus Pemuda Bekasi dengan Ustadz Hanan Attaki sebagai narasumber. Kurang lebih panitia menginfokan ada 6.000 peserta hadir, di acara subuh berjama'ah yang dilanjut kajian setelahnya tersebut. Waw banget lihat begitu banyak pemuda yang antusias terhadap ilmu akhirat.

Dari sekian nasihat yang beliau bagikan di moment itu, ada satu yang paling berkesan. Saat beliau secara halus menegur kebiasaan jaman millenial yang jauh-jauh hadir kajian karena ingin selfie dengan pembicaranya, bukan fokus pada kebarokahan menuntut ilmunya .

Sebelumnya, beliau mencerikan tentang kisah seorang pemuda yang berguru pada seorang ulama bernama Hasan Al-Bashri (CMIIW). Diceritakan, rumah beliau berjarak sangat amat jauh dari kediaman sang ulama tersebut. Sesampainya bertemu dengan sang Ulama, pemuda ini diberikan 1 nasihat. "Batalkanlah jual beli yang merugikan 1 orang meski yang sembilan lainnya untung." Sebelum berpisah dengan sang ulama, ia meminta beliau untuk bersedia mendoakan dirinya. Hasan Al-Bashri pun mendoakan pemuda ini dan selepas itu pulanglah ia ke daerah asalnya.

Bagi para salafush sholeh, kebiasaan yang erat saat menghadiri majelis ilmu adalah meminta doa para ulama pada zamannya untuk kebaikan dirinya di masa depan. Dan mereka tidak kecewa meski telah menempuh jarak sangat jauh untuk bertemu sang Ulama, namun hanya mendapat sedikit nasihat. Beda ya dengan generasi masa kini, dikit-dikit update foto saat ikut kajian, dikit-dikit selfie dengan pembicara. Duh! Kayanya akan nyesel banget gitu kalo pergi kajian belum ada bukti foto dan update medsosnya. Padahal mestinya yang lebih berbekas di hati dan ingatan kita adalah ilmunya daripada sekedar foto dengan sang pembicara.
Astaghfirullah.

Semoga, kita tersadar dan tidak ikut arus yang mendorong diri ini lebih sibuk kepada hal yang remeh temeh, seperti banyak selfie saat kajian dan bisa lebih fokus pada hal yang esensi ketika beramal sholeh semisal mengejar barokah menuntut ilmu. Aamiin.

*baru sadar, saat ikut kajian ini terlalu terkesima bisa lihat live ustadz hanan, sampe lupa buat nyatet isi kajiannya. Jangan ditiru yaa~ sekeren apapun sang narasumber tetap biasakan mengikat ilmu dengan mencatat ya. 😆 (Sambil penasaran, nyari-nyari rekaman di youtube ceramah kemarin) *

Curhatan Pengajar Bimbel..


"Neng, coba dihitung 7x8 berapa ya?"
"...", 
Pandangannya mencoba menghindari mataku.
"Yaudah, kalo gitu 5x5 berapa?"
"...",
Lagi lagi hening. Kali ini disertai senyum manis, yang tepat menampakkan ketidaktahuannya akan jawaban dari pertanyaanku.
"Heem.. kalau gitu neng hafalnya sampe perkalian berapa?"
"Perkalian satu dan dua", jawabnya.
Aku hanya takjub dan dalam hati sedih mendengar pengakuan itu dari seorang murid kelas 6.

Itu adalah sepenggal ilustrasi dialog keseharian sebagai seorang pengajar bimbel full time. Dengan waktu yang terbatas, orangtua berharap perubahan yang banyak pada pola belajar anaknya setelah mulai ikut bimbel. Ironis benar kan? Padahal sang anak lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dan di sekolah, bukan di bimbel. Tapi, beginilah realitanya.

Bagi saya, menjadi guru bimbel bukan berarti ingin menyaingi guru di sekolah. Justru sebenarnya tugas kami adalah membantu guru-guru di sekolah. Pengajar bimbel memastikan anak-anak paham segala pembelajaran yang telah diterimanya dari sang guru formalnya.

Kami juga ikut bahagia saat mereka bercerita tentang nilai ujiannya yang bagus. Ataupun melihat nilai yang memuaskan dari soal latihan di sekolah. Jujur, kami ikut bangga. Merasa jerih payah mengajari ataupun meluruskan pemahaman yang keliru pada sang anak didik telah berhasil. Tabarakallah. Alhamdulillah.

Tak hanya saat ada kabar baik, ketika ada kekeliruan yang didapati anak di sekolah akibat pembelajaran di bimbel, kami pun juga kaget, sedih dan merasa bersalah. Kami juga ingin membantu anak dengan kemampuan belajar yang lemah bisa kembali bersemangat mendalami pelajaran sebagaimana teman-temannya secara umum.

Namun, begitulah penyedia jasa. Ukuran berhasilnya adalah apakah jasanya telah cocok dengan kualitas yang distandarkan oleh konsumen. Jika iya, maka kepercayaan kepada Bimbel dan pengajar akan terus meningkat. Namun jika tidak, satu per satu buah bibir tentang buruknya kualitas jasa tersebut akan diketahui publik. Mau tak mau mereka yang mengandalkan jasa bimbel merasa berhak menuntut perbaikan pada pola belajar anak didiknya meski intensitas pertemuan bimbel yang terbatas.

Sebagai manusia tugas kita adalah berusaha. Hasilnya, biar kita serahkan pada Allah. Kita cukup terus berupaya dengan mastatho'tum (optimal) merencanakan segala langkah yang akan kita tempuh. Terbuka terhadap saran dan inovasi demi perbaikan diri. Meski gerak terbatas, terbukti banyak yang sudah bisa menghadirkan hasil terbaik. Maka jangan mau kalah. Bismillah optimalkan potensi terbaik kita.

Kebaikan itu Saling Berkaitan..

Hampir satu bulan tidak menulis.
Kenapa?
Bingung menjawabnya.
Satu bulan ini rasanya belum ada yang membuat hati gelisah, sehingga mood menulis belum muncul.

Padahal kata bapak koor, menulis itu perlu diasah bahkan kadang perlu dipaksa (dituntut). Agar kita terbiasa menulis dan ga lagi tergantung mood saat menulis (jika memang menulis adalah pekerjaan yang paling kita sukai).

Lagi bener-bener merenung lho, kenapa ya lagi ga semangat nulis? Padahal diri ini telah meyakini bahwa menulis adalah kegiatan paling favorit.

Apa semua terlaksananya kegiatan kebaikan itu saling terkait ya? Termasuk menulis dan beribadah. Adakah mereka berdua saling berkaitan? Nah! Ini sepertinya penyebab kegalauan tadi. Memang akhir-akhir ini jadwal tilawah agak tercecer, ditandai mulainya terasa goyah konsistensi baca quran harian diri ini. Makanya segala perenungan yang biasa dilakukan, jadi terlewat begitu saja. Hikmah yang harusnya bisa diikat dalam bentuk tulisan, jadi lenyap bersama menit dan detik yang berlalu.

Malu.
Iya.
Karena merasa ada kemunduran, saya merasa malu.
Malu sama diri sendiri, terlebih sama Allah.

Makanya akhirnya saya memperbaiki kelalaian itu. Dengan memberanikan diri meminta nasihat orang terdekat tentang masalah ini, saya berharap bisa berhasil  memantik lagi semangat tarbiyah dzatiyah saya yang mulai meredup. Alhamdulillah itu cukup memberi pengaruh. Diri ini jadi tersadar dengan jelas bahwa persepsi maklum kita sudah kelewat batas, dan kita perlu lagi kembali ke jalan yang benar. 

Perlu lho saat sedang melemah, kita meminta bantuan 'bangkit' seperti di atas dari orang lain. Dengan maksud untuk menyegarkan segala kepenatan dan menyadarkan diri kita agar kembali 'lurus'. Dan yakinilah bahwa satu niat kebaikan akan menghantarkan kita pada kebaikan yang lainnya lagi. Jadi jangan ragu lagi untuk mewujudkan peluang dan niat kebaikan yang muncul.

Wallahua'lam

Jumat, 16 Maret 2018

Pilih Calon yang Jago Debat? Cermati Lagi, yuk!

Salah satu Debat Publik yang diadakan menjelang Pilkada

Menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018 ini, Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) berinisiatif mengadakan debat publik yang bertujuan agar masyarakat semakin mengenal sosok pasangan calon dan visi-misi yang digagasnya.

Biasanya, seusai diadakannya debat publik, media massa akan memberikan analisis terkait performa adu argumen dari para kandidat. Dan penilaian tersebut bersifat linear dengan kemampuan public speaking sang pasangan calon saat sesi debat berlangsung.

Begitupun sebagian besar cara penonton menilai, pihak yang mempunyai kepiawaian retorika akan dengan mudah memikat hati mereka. Membuat mereka terpengaruh dan condong dengan gagasan calon tersebut.

Namun, cukupkah hasil penilaian calon pada sesi debat menjadi satu-satunya alasan kuat dalam menentukan pilihan terbaik?

Senin, 12 Maret 2018

Membuktikan Adabmu dalam Menuntut Ilmu

Banyak ya sekarang ini jamaah youtube-iyyah. Yang belajar ttg Islamnya hanya merasa cukup dg menonton secara online, bukannya menghadiri kajian secara langsung.

Menuntut ilmu pada masa kini memang sangat mudah aksesnya. Channel berisi ceramah berbagai ustadz dan penceramah bertebaran di youtube sana. Segala hal yang belum diketahui bisa langsung dipahami dengan bermodal klik dan kuota internet saja. Tapi apakah itu semua sudah cukup untuk menjadikan diri kita dianggap sebagai orang yang berilmu dan senantiasa mencari ilmu?

Kamis, 08 Maret 2018

Adab dan Nilai Zaman Millenial.. ckckckck

Yang muda tetap harus menghormati yang tua

Pernah ga sih nemuin macem orang yang saat dikasih masukan sama yg lebih tua, malah meresponnya dengan tanggapan yang kurang sopan?

Saya baru aja nemuin orang macem itu. Benar-benar baru aja, malam ini. Walaupun bukan saran saya yang ditanggapi begitu, melihat adab yang ngawur kepada yang lebih tua, bikin hati ini mulai bergejolak menolak.

Padahal masukan yang diberikan menurut saya sudah disampaikan dengan sopan dan bahasa yang cukup hati-hati agar tidak menyinggung yang punya hajat (orang yang diberi saran). Ada-ada nih anak jaman now. Ngada-ngada aja adab sopan santunnya. Belajar Bahasa Indonesia nya ga tuntas kali ya pas SMP. Kan ada Bab tentang bagaimana tata cara berdiskusi yang dan teknik menolak pendapat berbeda dengan perkataan yang sopan.

Mba yang ngasih saran sabar banget~
Barakallah ya mba sholihaa.. semoga sabarnya istoqomah. Aamiin.

Mungkin karena generasi millenial kenalnya dengan segala sesuatu yang serba instan, jadi dirinya terbiasa santai dimanapun berada.

Hadirkan dan Yakinlah..

Oleh : Fatimah

Diantara jerit hati yang menggema
Hadirkanlah bisikan lembut di celah nelangsa
Diantara pekatnya gulita kehidupan
Hadirkanlah secercah pelita menyapa kelamnya jiwa
Diantara tajamnya duri bunga kebanggaan
Ingatlah selalu ada harumnya aroma ketulusan
Diantara panasnya cercaan kebencian Insan
Ingatlah selalu sejuknya janji Tuhan akan kesabaran yang kau upayakan

Hawa yang 'Berbeda'

Oleh : Fatimah

Hawa..
Kau dicipta Tuhan sebagai penguat sang Adam
Kau dicipta Tuhan sebagai teman setia sang Adam
Dan, Kau pun dicipta Tuhan sebagai Ibu bagi anak-anak Adam

Hawa..
Makhluk lembut yang hatinya kuat
Makhluk lembut yang hatinya adalah sumber kekuatan hidupnya
Makhluk penuh kasih yang keyakinannya telah menjadikannya ‘pusat cinta’
Pusat cinta buah hati yang dilahirkannya
Pusat cinta Adam, sang teman setia
Dapatkah mereka bertahan, saat sang pusat cinta merana?
Dapatkah mereka bersinar terang, saat sang pusat cinta meredup gelap?

Rabu, 07 Maret 2018

Kabar Sendu Berkepanjangan itu Kini Melanda Ghouta, Suriah

Kondisi bayi yang menjadi korban penyerangan Militer Suriah


Malam ini begitu sendu. Tak lain tak bukan, disebabkan oleh kabar terbaru saudara muslim kita di Ghouta, Suriah. Tersayat hati ini, mendapati mimpi buruk yang dulu menimpa Allepo kini terjadi pada Ghouta.

Tak habis pikir, mengapa bisa ada pribadi sejahat Bashar Al Assad. Pemimpin yang lebih mementingkan kekuasaannya di banding keselamatan rakyatnya. Padahal warga sipil yang terluka dan terbunuh akibat penyerangan brutal ini, adalah rakyat yang akan meminta pertanggungjawabannya sebagai pemimpin di akhirat kelak.

Belum menyadari betapa mengerikannya rezim suriah ini? Bukalah mata dan hati nurani kalian. Penyerangan militer Suriah yang telah banyak menewaskan masyarakat sipil ini, telah terjadi sejak tahun 2011. Tanpa kita sadari, kejahatan kemanusiaan ini sudah berlangsung selama kurang lebih 7 tahun, yang lamanya menyamai lebih dari satu periode kepresidenan di Indonesia.

Awal mula penyerangan oleh rezim Assad,
Semua penyerangan ini diklaim sebagai usaha rezim Assad untuk melumpuhkan kelompok oposisi yang masih menguasai beberapa kota di Suriah. Ghouta Timur merupakan enklave terakhir dekat ibu kota yang masih dikuasai pejuang oposisi. Maka dari itu penyerangan ke Ghouta dianggap rencana penting untuk menghentikan penembakan ke ibu kota Damaskus oleh kelompok pejuang oposisi.

Minggu, 04 Maret 2018

Fenomena Pindah Partai Jelang Pemilu 2019, Adakah yang Orientasinya Masih Lurus?

Keong yang suka berganti 'rumah'

Duh, emang ya kalau manusia itu sudah punya kemauan seringnya apapun akan diupayakannya. Termasuk untuk menjadi seorang politisi handal. Pilihan untuk akhirnya pindah ke partai yang 'lebih cocok di hati' pun, meski dicibir, tetap akan dilakoni. 

Begitulah kondisi nyata perpolitikan ibu pertiwi, banyak oknum yang mengandalkan berbagai cara 'memenangkan popularitas' di panggung ini.

Seperti kisah Mantan politisi senior PDIP,  Ratno Pintoyo yang pindah haluan ke Partai Nasdem. Ia langsung dipercaya untuk menjabat sebagai dewan pakar di sana, seperti dikutip www.radarjogja.com (1/3/2018)

Ia mengaku tidak bisa menyampaikan aspirasi lagi di PDIP. ‘’Jadi saya memutuskan keluar (dari PDIP),” kata Ratno.

Sebenarnya, pilihan untuk berpindah partai sepenuhnya adalah hak dari seorang politisi, tak ada yang berhak menghakimi keputusan tersebut. Namun pastinya, ada alasan kuat yang mendasari perpindahan sang politisi ke partai lain. Dan sebagai seorang pemilik hak suara di Pemilihan Umum (PEMILU) nanti, kita harusnya cerdas membaca maksud dibalik gelagat para pelaku politik praktis tersebut.

Fenomena politisi yang berubah haluan ini bisa terjadi dikarenakan dua alasan berikut ini:

Kamis, 01 Maret 2018

Empati Sang Pejuang Gerbong Wanita

Commuter Line gerbong 'khusus' wanita
"Ladies First" adalah ungkapan yang  terkenal tentang bagaimana seharusnya laki-laki mendahulukan seorang wanita dalam pemenuhan haknya. Ungkapan ini akan banyak terbukti saat melihat gerbong KRL biasa, akan didapati banyak penumpang laki-laki yang memberikan tempat duduknya kepada pengguna wanita yang membutuhkan dan berposisi berdiri tak jauh darinya.

Namun berbeda ceritanya saat melihat kondisi kaum hawa di gerbong khusus wanita Commuter Line (KRL) Jabodetabek, pada jam berangkat dan pulang kerja. Pada kondisi dengan semua penumpangnya adalah wanita, ungkapan di atas bisa berubah menjadi sikap arogan kaum hawa untuk mempertahankan kenyamanan yang telah susah payah didapatkannya dalam gerbong KRL.

Minggu, 25 Februari 2018

Rendah Hati Tak Pernah Membuatmu Kalah


Seperti biasa saat membuka beranda youtube, vlog terbaru Gita Savitri adalah hal pertama yang saya cari. Ternyata video terbarunya kali ini menyinggung nama seorang Ustadz yang baru saja berkunjung ke Berlin saat itu, yakni Nouman Ali Khan.

Gita menyampaikan rasa nyamannya terhadap gaya penyampaian dan konten ceramah dari sang ustadz. Sontak setelah selesai dengan vlog tersebut, saya beralih mencari video-video tentang sosok ustadz ini. Muncullah beberapa rekomendasi video beliau, dan langsung ada satu pilihan yang membuat mata saya fokus tertuju. Penyampaian beliau yang membahas sikap Rendah Hati beserta Ciri-Cirinya, silahkan cek link nya berikut ini..

https://www.youtube.com/watch?v=vYPDO8C0oGU&t=0s&list=LLhJiDbxQEGAhzHchNsFL4bA&index=2

Karena terdapat terjemahan bahasa Indonesia pada video itu, saya pun tanpa ragu meng-klik link tersebut dan menontonnya hingga selesai. Tak rugi, banyak hal yang mencerahkan dari singkatnya penyampaian beliau dalam video itu.

Beliau membahas sebuah ayat yang menjelaskan ciri-ciri orang yang rendah hati yakni Quran Surah Al- Furqon Ayat 63. Dikatakan bahwa kategori pertama orang disebut rendah hati, adalah saat dimana ia berhadapan dengan lawan bicara yang jahil, yang pemarah, yang berkata kasar bahkan menyakiti perasaan hatinya, maka ia kemudian Qoluu Salaman.

Beliau memberikan contoh yang sangat dekat dengan keseharian kita, semisal saat mengendarai mobil dan menemui pengendara yang menjengkelkan. Bahkan kita mendapati sang pengemudi dengan santainya memaki kita, dianggapnya insiden tersebut adalah kesalahan kita sepenuhnya. Beliau mencontohkan respon-respon manusiawi yang sering kita nampakkan atas insiden seperti ini, semisal membunyikan klakson dengan keras dan penuh emosi kepada pengendara lain tersebut.

Beliau kemudian menerangkan apa yang dimaksud dengan Qoluu Salaman.

Mempunyai Impian itu Hak kita, dan Pengabulannya adalah Kuasa Allah

Pernah kah kalian melihat bahkan mungkin mengalami sendiri, orang lain yang menyangsikan atau bahkan sampai ikut men-jugde cita-cita dan harapan besar dirimu atau orang-orang terdekatmu? Bagaimana perasaan kalian saat terjadi hal itu? Mungkin sedih, kesal atau bahkan justru menjadi tidak lagi pe-de (percaya diri) dikarenakan penghakiman pihak lain terhadap segala upaya diri kita dalam menggapai impian tersebut. Padahal bukankah Cita-cita itu milik kita? Kita lah yang lebih tau sampai batas mana upaya tersebut sudah kita optimalkan.

Jujur, saya suka menulis. Apalagi menulis di saat banyak hal yang mengganggu pikiran, bahkan parahnya saya pernah menulis karena ingin membuat sindiran untuk seseorang (hehehe), rasanya ingin semua unek-unek itu tertuang dalam tulisan, hingga tak hanya jadi keluhan namun juga jadi renungan.

Ingat sekali, awal mula merasa sangat terbantu dengan menulis, saat kelas 4 SD (kalau tidak salah). Ada tragedi yang terjadi membuat saya tak henti menangis ketakutan, namun seketika air mata berhenti setelah semua curhatan itu tertuang di buku tulis.

Setelahnya mulailah SMP saya membuat blog dan meneruskan menulis segala kegelisahan saya di sana. Kebiasaan ini pun berlanjut hingga saya kuliah, tumpah ruah semua rasa tercurah di diary digital saya. Tanpa sadar, kebiasaan menulis ini mulai menumbuhkan benih-benih impian saya menjadi seorang wartawan/ reporter. Meskipun saat itu belum pernah ada kesempatan bagi saya untuk mendekati atau mendalami jurnalistik sebagai bagian dari profesi itu.

Setelah lulus kuliah, kesadaran ingin menjadi seorang reporter pun mulai mendapatkan peluangnya.

Kamis, 18 Januari 2018

Haruskah Aksi 212 vs Politik Praktis?

Sempat beredar tulisan tentang perwakilan ormas yang keberatan dan merasa adanya penggiringan opini politik umat seiring diadakannya reuni alumni 212.

http://m.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2018/01/13/132970/pp-pemuda-muhammadiyah-minta-alumni-212-tidak-masuk-politik-praktis.html

Beliau merasa dipolitisisasi ketulusannya bergabung bersama umat, ketika terjadi kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok mendekati Pemilu Gubernur Jakarta 2016 silam.